Kisah Justitia Avila Veda & Sahabat Korban Kekerasan Seksual
Pagi hari di Jakarta, ketika kereta masih diisi deru roda dan sahutan pintu yang terbuka-tutup, seorang pengacara muda dengan nama cukup klasik, Justitia Avila Veda sudah memikirkan sesuatu yang jauh dari sekadar “ngelayani klien.”
Baginya, perjalanan ke ruang sidang bukan hanya soal argumen hukum, tapi tentang menemani mereka yang mungkin belum tahu bahwa mereka pun memiliki hak untuk didampingi.
Bermula dari Empati, Bukan Siapa-Siapa
Justitia tumbuh dengan latar belakang hukum. Ia lulusan S1 Universitas Indonesia dan LL.M dari University of Chicago Law School.
Namun bukan gelar dan privilege itulah yang mendorongnya ke medan “pendampingan korban kekerasan seksual.”
Justitia melihat lingkungan pertemanannya: banyak perempuan yang menyimpan pengalaman pelecehan atau kekerasan seksual, seringkali tanpa tahu harus ke mana.
Dari situ, ia berkata, “Saya mengerti bagaimana rasanya kebingungan, merasa tidak berdaya, dan merasa kesulitan memproses kejadian…”
Sumber menyebutkan bahwa pada Juni 2020, ia mengirim tweet “iseng” menawarkan konsultasi hukum gratis bagi korban atau menjadi pendamping korban kekerasan seksual.
Responnya cepat banget. Hanya dalam 24 jam, puluhan aduan masuk via email dan media sosial. Sebuah sinyal bahwa kebutuhan itu besar, tetapi belum mendapatkan akses yang terstruktur.
Mendirikan “Sahabat Korban Kekerasan Seksual” lewat KAKG
Dari tweet yang sederhana itu, Justitia bersama beberapa pengacara lainnya membentuk sebuah entitas yang kita sebut saja sebagai... Kolektif Advokat untuk Keadilan Gender (KAKG). Intinya mereka menyediakan konsultasi hukum gratis dan pendampingan korban kekerasan berbasis gender.
Mereka bukan hanya menerima aduan, tapi juga menciptakan sistem: mulai dari pooling aduan via e-mail hingga proses rujukan ke layanan medis atau psikologis ketika dibutuhkan (karena mereka menyadari bahwa pemulihan korban itu tidak cukup hanya lewat hukum saja).
Profil Justitia menekankan pendekatan holistik berupa konsultasi/pendampingan hukum + rujukan medis/psikologis + rujukan ke rumah aman jika diperlukan.
Dan angka pun muncul. Antara Juni 2022 hingga Agustus 2023 saja, tercatat 465 aduan yang masuk ke KAKG. Jumlah yang tidak sedikit kalau kita hitung dari pertama nge-tweet “iseng” menjadi ratusan aduan dalam dua tahun, menunjukkan bahwa ide yang tampak kecil itu ternyata beresonansi luas.
Penghargaan SATU Indonesia Awards 2022
Pada tahun 2022, Justitia Avila Veda menjadi salah satu penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards, dalam bidang Kesehatan.
Penghargaan ini bukan hanya simbol, tapi pengakuan bahwa usaha yang digelutinya, memfasilitasi akses keadilan bagi korban kekerasan seksual adalah karya yang berdampak sosial.
Dalam pengumuman resmi, program ini disebut sebagai “apresiasi bagi anak bangsa yang telah memberikan kontribusi untuk mendukung terciptanya kehidupan berkelanjutan melalui bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan dan Teknologi.”
Jadi, ketika Justitia menerima penghargaan, ia seolah menjadi bagian dari narasi besar yaitu, generasi yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi mengangkat dan memberi ruang bagi mereka yang terpinggirkan.
Mengapa Kisahnya Penting?
- Karena ia mengambil peran yang sering diabaikan: korban kekerasan seksual masih sering berada di pinggir sistem — takut bersuara, belum tahu rujukan, merasa sendirian.
- Karena ia menunjukkan akses sebagai privilege yang harus dipakai: Justitia sendiri menyadari bahwa ia memiliki “privilege terbesar” latar belakang hukum, jejaring, akses pendanaan, dan merasa bertanggung jawab moral untuk memanfaatkannya untuk teman-teman korban yang berjuang sendiri.
- Karena ia membangun model yang bisa direplikasi: tweet sederhana → layanan digital → lembaga → penghargaan. Ini rangkaian yang mengilhami bahwa perubahan sosial bisa dimulai dari langkah kecil yang konsisten.
Apa Itu SATU Indonesia Awards?
SATU Indonesia Awards adalah program apresiasi yang diselenggarakan oleh PT Astra International Tbk (sering disingkat Astra), yang diperuntukkan bagi individu atau kelompok di Indonesia yang memiliki kontribusi nyata dalam lima bidang: Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi. Pendaftaran biasanya terbuka setiap tahun (misalnya di 2025: periode pendaftaran 28 Februari – 28 Juli).
Bagaimana Cara Mengikutinya?
- Calon (individu atau kelompok) mendaftar atau dinominasikan melalui website resmi SATU Indonesia Awards.
- Ada persyaratan seperti: program/kegiatan sudah berjalan minimal satu tahun, inisiator maksimal usia tertentu (tergantung periode), kegiatan orisinal, belum pernah mendapat manfaat atau penghargaan nasional sejenis, dll.
- Seleksi melibatkan dewan juri dari berbagai latar bidang profesi.
- Pemenang nasional akan mendapatkan dana pembinaan (misalnya Rp 65 juta di beberapa edisi) serta pembinaan lanjutan.
Apa Untungnya Ikutan SATU Indonesia Awards?
- Pengakuan nasional: selain prestise, nama Anda atau organisasi Anda diakui secara resmi sebagai salah satu pemimpin perubahan sosial.
- Dana pembinaan: untuk mengembangkan program yang sudah berjalan, skala lebih besar atau lebih berkelanjutan.
- Jejaring: bergabung dengan alumni penerima SATU Indonesia Awards membuka peluang kolaborasi lintas sektor, akses ke mitra institusi, korporasi, dan pemerintah.
- Ekspansi dampak: melalui dukungan dan fasilitas, program Anda bisa lebih berkelanjutan dan memiliki output yang lebih luas.
- Inspirasi: menjadi contoh yang memotivasi orang lain. Seperti yang dilakukan Justitia, untuk berani mulai dari langkah kecil.
Penutup
Kalau kita ambil metafora duduk di kereta pulang kantor, seperti kisah “pura-pura tidur di kursi prioritas” yang kamu tulis sebelumnya, maka Justitia adalah orang yang menarik kursi itu ke situ, bukan hanya duduk nyaman.
Dia berkata: “Kursi prioritas bukan untuk saya saja, jika ada yang lebih butuh, maka saya berdiri.” Dan penghargaan SATU Indonesia Awards adalah semacam tanda bahwa kursi prioritas itu telah direbut oleh mereka yang benar-benar butuh, dan bahwa kita semua bisa belajar untuk tidak hanya menghindari tatapan ibu hamil di depan kursi, tapi aktif berdiri dan memberi ruang.
Kisah Justitia Avila Veda mengingatkan bahwa perubahan sosial seringkali berawal dari “tweet iseng,” tapi bisa tumbuh menjadi gerakan nyata dan bahwa saat kita punya akses dan privilege, itu bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk mengangkat yang lain. Semoga semakin banyak “Sahabat Korban Kekerasan Seksual” seperti dia, dan semakin banyak pula orang yang memilih untuk berdiri demi orang lain, bukan hanya demi kenyamanannya sendiri.


Post a Comment for "Kisah Justitia Avila Veda & Sahabat Korban Kekerasan Seksual"